Plastik
merupakan bahan kemasan yang paling populer dan sangat luas
penggunaannya. Secara kimiawi plastik merupakan senyawa makromolekul
organik (polimer) hasil polimerisasi, polikondensasi, poliadisi
monomernya. Mengapa plastik paling banyak dan luas? Hal ini disebablan
sifatnya yang fleksibel (dapat mengikuti produk), transparan, tidak
mudah pecah, dapat dikombinasikan dengan bahan kemasan lain, non korosif
dan harganya relatif murah.
Bahan baku pembuatan plastik
Bakan
baku pembuatan plastik untuk kemasan pangan adalah polietilena
tereftalat (PET), polietilena berdensitas tinggi (High Density
Polyethylene, HDPE), Polivinil Klorida (PVC), Polietilena Berdensitas
Rendah (Low Density Polyethylene, LDPE), Polipropilena (PP), Polistirena
(PS) dan Polikarbonat (PC). Keterangan jenis plastik yang digunakan
dalam kemasan dapat dilihat dalam bentuk simbol kode segitiga.
Meski sangat populer, kemasan plastik memiliki kekurangan yaitu tidak tahan panas, dapat mencemari produk karena komponen monomernya dapat bermigrasi dan tidak dapat dihancurkan dengan cepat. Bahan dasar plastik pada umumnya berbasis minyak bumi dengan beberapa bahan tambahan untuk meningkatkan perfoma dan umur simpan. Bahan tambahan inilah yang harus menjadi perhatian konsumen. Beberapa bahan tambahan bersifat karsinogenik sehingga plastik yang digunakan menjadi tidak thoyyib bagi umat muslimin. Dalam dekade terakhir ini, penggunaan bahan plastik berbasis minyak bumi sudah mulai dikurangi dan kembali beralih ke bahan alami agar mudah terurai (biodegradable) seperti tepung pati dan gelatin.
Meski sangat populer, kemasan plastik memiliki kekurangan yaitu tidak tahan panas, dapat mencemari produk karena komponen monomernya dapat bermigrasi dan tidak dapat dihancurkan dengan cepat. Bahan dasar plastik pada umumnya berbasis minyak bumi dengan beberapa bahan tambahan untuk meningkatkan perfoma dan umur simpan. Bahan tambahan inilah yang harus menjadi perhatian konsumen. Beberapa bahan tambahan bersifat karsinogenik sehingga plastik yang digunakan menjadi tidak thoyyib bagi umat muslimin. Dalam dekade terakhir ini, penggunaan bahan plastik berbasis minyak bumi sudah mulai dikurangi dan kembali beralih ke bahan alami agar mudah terurai (biodegradable) seperti tepung pati dan gelatin.
Gelatin sebagai bahan tambahan produk plastik untuk kemasan pangan
Selain
thoyyib tentunya kehalalan plastik menjadi perhatian penting. Salah
satu titik kritis kehalalan plastik adalah adanya penggunaan bahan dasar
alami yaitu gelatin. Seperti yang sudah diketahui gelatin dapat
bersumber dari nabati dan hewani. Gelatin yang berasal dari babi atau
hewan yang tidak disembelih secara syar’i akan menjadikan plastik
sebagai produk akhir berstatus tidak halal pula.
Bahan lain adalah stearat yang kerap digunakan sebagai bahan aditif yang bertindak sebagai scavenger asam atau penetral yang juga dapat bersumber dari hewani yang harus dicermati hewan asalnya apakah babi atau sembelihan tidak halal.
Dalam proses pembuatan plastik, lemak cair kerap kali digunakan untuk menghindari adanya kemacetan roda mesin produksi yang disebabkan panas. Lemak cair dapat bersumber dari hewan dan tentu saja lemak cair yang bersumber dari babi atau hewan yang tidak disembelih secara syar’i akan menjadikan plastik yang bersinggungan dengan mesin tersebut berstatus tidak halal pula.
Jelaslah sudah, meski tidak termasuk bahan yang dikonsumsi namun status kehalalan plastik yang kita gunakan untuk mengemas makanan, minuman dan kosmetik harus jelas kehalalannya.
Bahan lain adalah stearat yang kerap digunakan sebagai bahan aditif yang bertindak sebagai scavenger asam atau penetral yang juga dapat bersumber dari hewani yang harus dicermati hewan asalnya apakah babi atau sembelihan tidak halal.
Dalam proses pembuatan plastik, lemak cair kerap kali digunakan untuk menghindari adanya kemacetan roda mesin produksi yang disebabkan panas. Lemak cair dapat bersumber dari hewan dan tentu saja lemak cair yang bersumber dari babi atau hewan yang tidak disembelih secara syar’i akan menjadikan plastik yang bersinggungan dengan mesin tersebut berstatus tidak halal pula.
Jelaslah sudah, meski tidak termasuk bahan yang dikonsumsi namun status kehalalan plastik yang kita gunakan untuk mengemas makanan, minuman dan kosmetik harus jelas kehalalannya.
Inilah Produk Plastik Halal Medina
Produk
Medina sudah jelas bersertifikasi halal dari MUI, produk-produk Medina
tidak perlu diragukan lagi. Jika Bunda ragu, Bunda dapat mengecek
Sertifikat Jaminan Halal (SJH) dengan nomor 00170074121015 LPPOM MUI
yang dimiliki Medina. Sertifikat tersebut menjadi bukti kehalalan produk
plastik Medina secara material, fasilitas, dan proses produksi hingga
distribusi.






No comments:
Post a Comment