Hosting Unlimited Indonesia

Saturday, January 18, 2020

Sejarah Negeri Hutumuri

Sejarah Negeri Hutumuri


Negeri Hutumuri terletak di Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. Masyarakat yang tinggal di Hutumuri umumnya penduduk asli yaitu suku Ambon. Mereka yang disebut suku Ambon adalah
 kelompok masyarakat penduduk asli yang mendiami Pulau Ambon, Pulau-pulau Lease, wilayah Seram bagian tengah dan wilayah Seram bagian barat. Kelompok masyarakat ini menyatakan diri mereka se-bagai pendukung kebudayaan Ambon yang merupakan akulturasi dari beberapa kebudayaan yang berasal dari luar antara lain Melayu, Polynesia dan Melaneysia (Pattipeylohy Y, 2000:4).
Asal usul orang Ambon menurut Jansen datang dari Seram, Kepulauan Banda, Kei, Halmahera, Ternate, Tidore dan Pulau Jawa. Rombongan pendatang ini datang secara berkelompok dan bertahap. Kelompok pertama ialah kelompok Tuni yang bermigrasi ke Pulau Ambon. Kelompok Wakan datang dari Kepulauan Banda dan Kei, kelompok ketiga yaitu kelompok Moni dari Halmahera, Ternate dan Tidore sedangkan kelompok terakhir yaitu Mahu dan Tuban dari Pulau Jawa.

Migrasi penduduk yang datang dari berbagai tempat itu tidak serta merta mengubah struktur sosial masing-masing kelompok. Satu diantaranya kebudayaan dari Pulau Seram kenyataannya masih me-
ngental dan turut memperkaya kebudayaan Ambon. Dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat  Hutumuri di Pulau Ambon. Adapun arti kata “ambon” sendiri tidaklah terlalu jelas. Salah
satu keterangan yang umumnya diketahui oleh penduduk di Pulau Ambon termasuk di Hutumuri bahwa istilah itu berasal dari kata ombong yaitu suatu bentukan lokal dari kata embun. Keadaan cuaca di Pulau Ambon terutama di puncak-puncak gunung pada waktu-waktu tertentu ditutupi oleh embun yang tebal sehingga Kota Ambon kelihatannya gelap; kadang-kadang menyulitkan pesawat terbang bila hendak mendarat sehingga pesawat itu harus kembali ke Ujung Pandang. Dari kata ombong, lama-lama menjadi ambong dan akhirnya menjadi ambon.

Hutumuri disebut juga Hatumuri atau Batumuri. Secara etimologi, Hatumuri terdiri dari dua suku kata hutu dan muri. Hatu atau hutu artinya batu sedangkan muri artinya gunung. Dengan demikian
Hutumuri artinya belakang batu atau belakang gunung. Untuk mengetahui sejarah asal mula Negeri Hutumuri, peneliti telah melakukan wawancara dengan tokoh adat Hutumuri yaitu Bapak Benny Sa-
meaputty di Negeri Hutumuri. Secara lengkapnya cerita tentang asal mula Negeri Hutumuri dikemukakan sebagai berikut:

“Pada waktu dahulu di Nunusaku terdapat seorang bapak yang bernama Wakonda. Ia memiliki tiga orang anak laki-laki masing- masing Timanole, Simanole dan Silaloi. Ketika mereka menjadi de-
wasa diputuskanlah untuk meninggalkan Nunusaku. Sebelumnya ketiga saudara tadi telah mengikat janji untuk tetap saling menyayangi sebagaimana layaknya ketika hidup di Nunusaku walaupun
akan dipisahkan oleh laut dan daratan. Pada waktu yang telah ditentukan berpisahlah kakak beradik itu. Timanole kakak yang tua bergerak dari Nunusaku menuju ke arah barat dan ia tiba di suatu
tempat yang sekarang menjadi Negeri Tamilouw. Saudaranya yang kedua bernama Simanole menyeberang ke Pulau Ambon, menuju ke suatu tempat di daerah perbukitan yaitu daerah sekitar Benteng Karang Passo, sedangkan yang bungsu bernama Silaloi berlayar menuju Pulau Saparua dan membangun negeri yang sekarang bernama Sirisori. Oleh karena itulah di antara anak-anak adat dari ketiga negeri ada hubungan persaudaraan yaitu Negeri Tamilouw, Negeri Sirisori dan Negeri Hutumuri. Ikatan persaudaraan itu dikenal dengan nama pela dan gandong. Simanole berlayar menuju Pulau Ambon dengan menggunakan perahu untuk mencari suatu daerah yang akan dijadikan perkampungan.  Di masa itu sering terjadi peperangan antar suku maka perkampungan biasanya dibangun di daerah-daerah yang tinggi atau di daerah perbukitan sehingga tidak mudah dijangkau oleh musuh. Perkampungan di bukit sekaligus sebagai benteng pertahanan jika ada penyerangan musuh. Nenek moyangnya Simanole berlayar menyusuri Sungai Wai dan tiba di Tomol. Untuk beberapa waktu ia tinggal di situ namun kembali melanjutkan perjalanan mencari tempat yang baik untuk menetap dan tiba di suatu tempat yang bernama Lana yaitu yang sekarang ini di sekitar perkampungan Benteng Karang dan membangun perkampungan di Lana. Simanole diangkat menjadi pemimpin bagi kurang lebih 150 (seratus lima puluh) kepala keluarga dan dianugerahi nama Simanole Lai Lana Lau artinya yang datang dari Laut. Ia juga mendapat gelar Henawalawala artinya Orang Gunung yaitu orang yang datang dari Gunung yaitu dari Pulau Seram. Simanole Lai La-
na Lau menurunkan empat matarumah utama yang ada di Negeri Hutumuri sekarang ini yaitu matarumah Souhuat, matarumah Patalala, matarumah Lilipory dan matarumah Kayluhu. Keempat matarumah utama dimaksud memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing sebagai berikut. Matarumah Souhuat bertindak sebagai kapitang yaitu panglima perang. Jabatan ini diberikan secara
turun temurun. Matarumah Patalala bertindak sebagai Armeta yaitu orang yang mengatur administrasi pemerintahan atau semacam sekretaris negeri; matarumah Lilipory bertanggung jawab mengurus perekonomian sedangkan matarumah Kayluhu bertindak sebagai Mauweng yaitu pendeta adat, yang biasanya memimpin upacara -upacara adat.
Ketika Belanda berkuasa di Ambon serta melakukan kebijakan politik dan ekonomi maka proses penurunan negeri-negeri dari gunung-gunung ke pantai yang telah dilaksanakan di masa Portugis dilanjutkan oleh De Vercenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Kebijakan ini tidak ditaati sepenuhnya oleh seluruh masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang tidak mau mengindahkan kebijakan Belanda tersebut sehingga meninggalkan kampung atau negerinya untuk mencari tempat lain yang dirasakan lebih aman. Orang-orang di perkampungan Lana, juga merasa tidak senang dengan cara VOC sehingga mereka berpindah ke tempat lain. Rombongan yang melarikan diri itu berjalan menyusuri Pantai Lawena menuju ke arah Negeri Rutong. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan kelompok-kelompok perkampungan kecil yang disebut Uli. Pada akhirnya rombongan dari Lana bergabung dengan uli-uli tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya sebutan Uli berubah menjadi Soa. Masing-masing Soa di dalam negeri memiliki lambang atau simbol totem klannya berupa wujud binatang.”

No comments:

Post a Comment

Supplier Marmer Terlengkap, Ada Disini...

Marmer merupakan kebutuhan dasar untuk sebuah project sebuah bangunan berkualitas seperti Kantor, Hotel, Appartment atau Rumah Mewah. Sering...